Perbedaan Gaya Komunikasi Antara Budaya Individualistik dan Kolektivistik Dalam Lingkungan Multikultural Kabupaten Badung Bali
DOI:
https://doi.org/10.33830/communicatio.v1i2.13234Kata Kunci:
Gaya Komunikasi, Budaya individualistik, Budaya kolektivistikAbstrak
Penelitian ini membahas perbedaan gaya komunikasi antara budaya individualistik dan kolektivistik di Kabupaten Badung, Bali, yang merupakan daerah multikultural dengan interaksi intensif antara masyarakat lokal dan wisatawan asing. Latar belakang penelitian ini berfokus pada tantangan komunikasi yang muncul akibat perbedaan budaya, terutama di sektor pariwisata yang melibatkan pekerja lokal dan pengunjung dari berbagai negara. Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami bagaimana perbedaan gaya komunikasi antara kedua budaya tersebut memengaruhi interaksi sosial dan profesional, serta untuk mengidentifikasi tantangan komunikasi yang timbul. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kajian pustaka (literature review) yang bersifat kualitatif deskriptif, dengan karakter utama berupa penelusuran sistematis terhadap sumber-sumber sekunder yang relevan, analisis tematik terhadap teori dan temuan sebelumnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan dalam pendekatan komunikasi ini menyebabkan kesalahpahaman, baik dalam konteks personal maupun profesional, namun dapat diminimalisir dengan peningkatan keterampilan komunikasi antar budaya dan pemahaman yang lebih dalam tentang nilai-nilai yang mendasari masing-masing budaya. Penelitian ini menyarankan perlunya pelatihan komunikasi lintas budaya untuk meningkatkan efektivitas interaksi dalam lingkungan multikultural.
Referensi
Anugrah Roshadi, B., Rahardjo, T., & NS Gono, J. (2024). Radaptasi budaya kolektivis mahasiswa Indonesia. Interaksi Online, 13(1), 436–449.
Arrajab, A. H. (2024). Komunikasi lintas budaya (Communication between culture) (Edisi ke-7). Salemba Humanika.
Bhawuk, D. P. S. (2017). Individualism and collectivism. In Cross-cultural communication: Theories, issues, and concepts. Wiley. https://doi.org/10.1002/9781118783665.ieicc0107
Efendi, S., Sunjaya, H., Purwanto, E., & Widiyanarti, T. (2024). Peran komunikasi antar budaya dalam mengatasi konflik di lingkungan multikultural. Indonesian Culture and Religion Issues, 1(4), 6.
Gudykunst, W. B., & Ting-Toomey, S. (1988). Culture and interpersonal communication. Sage Publications.
Gudykunst, W. B., Matsumoto, Y., Ting-Toomey, S., Nishida, T., Kim, K., & Heyman, S. (1996). The influence of cultural individualism-collectivism, self-construals, and individual values on communication styles across cultures. Human Communication Research, 22(4), 510–543. https://doi.org/10.1111/j.1468-2958.1996.tb00377.x
Hall, E. T. (1976). Beyond culture. Anchor Books.
Hariyanto, D., & Dharma, F. A. (2020). Komunikasi lintas budaya. UMSIDA Press.
Hernawan, W., & Pienrasmi, H. (2021). Komunikasi antarbudaya: Sikap sosial dalam komunikasi antaretnis. Pusaka Media.
Hofstede, G. (2001). Culture’s consequences: Comparing values, behaviors, institutions and organizations across nations (2nd ed.). Sage Publications.
Indrariani, E. A., Sukmaningrum, R., Wahyuhastuti, N., Setyoadi, Y., Prayito, M., & Ulumuddin, A. (2025). Public speaking untuk masyarakat multikultural studi kasus di Hulu Langat, Malaysia. Jurnal Pengabdian Kolaborasi Dan Inovasi IPTEKS, 3(1), 108–113.
Lustig, M. W., & Koester, J. (2012). Intercultural competence: Interpersonal communication across cultures (7th ed.). Pearson.
Noviari, N., Ilham, N., Sepriyani, & Besar, I. (2024). Strategi komunikasi bisnis untuk menghadapi perbedaan budaya. Jurnal ISO: Jurnal Ilmu Sosial, Politik Dan Humaniora, 4(2), 5.
Rohmani, A. L., Satriawati, S., & Zain, S. M. (2025). High vs. low context communication in cross-cultural celebrity Instagram comments. Morphosis: Journal of Literature, 7(1).
Saputri, M. E., & Saraswati, G. T. (2017). High-low context communication in business communication of Indonesian. In Proceedings of the 3rd International Conference on Transformation in Communications (IcoTiC 2017) (pp. 161–167). Atlantis Press. https://doi.org/10.2991/icotic-17.2017.33
Tan, J. K. L., & Goh, J. W. P. (2006). Why do they not talk? Towards an understanding of students’ cross-cultural encounters from an individualism/collectivism perspective. International Education Journal, 7(5), 651–667.
Ting-Toomey, S. (2005). The matrix of face: An updated face-negotiation theory. In W. B. Gudykunst (Ed.), Theorizing about intercultural communication (pp. 71–92). Sage Publications.
Tita, A., et al. (2023). Komunikasi antarbudaya. Widina Media Utama.
Trubisky, P., Ting-Toomey, S., & Lin, S. (1991). The influence of individualism-collectivism and self-monitoring on conflict styles. International Journal of Intercultural Relations, 15(1), 65–84. https://doi.org/10.1016/0147-1767(91)90074-Q
Usunier, J.-C., & Roulin, N. (2010). High- and low-context communication styles and effects on web design and content. Journal of Business Communication, 47(2), 189–227. https://doi.org/10.1177/0021943610364526
Vernaputri, A. A., et al. (2022). Komunikasi antarbudaya: Ragam colore. Insan Cendekia Mandiri.
Widiyanarti, T., Fadianti, C. A., Yunandar, F., Ningsih, F. S., Aji, J. F., & Syifa, M. (2024). Analisis perbedaan pola komunikasi verbal dan non-verbal dalam interaksi antar budaya. Interaction Communication Studies Journal, 1(3), 12.
Unduhan
Diterbitkan
Cara Mengutip
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2025 Maranatha Cristianing Siahaan, Andi Asy'hary J. Arsyad

Artikel ini berlisensiCreative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.